Surabaya, 16 September 2026 — Universitas Bhayangkara Surabaya (Ubhara Surabaya) resmi meluncurkan SITIRA (Sistem Digitalisasi Terintegrasi Ubhara Surabaya) dalam kegiatan launching yang digelar pada Rabu, 16 September 2026, di Ruang Seminar Universitas Bhayangkara Surabaya.
Kegiatan launching dihadiri oleh Rektor Universitas Bhayangkara Surabaya, Irjenpol (Purn) Drs. Anton Setiadji, S.H., M.H., jajaran pimpinan universitas, serta sivitas akademika. Momentum ini menjadi salah satu langkah strategis Ubhara Surabaya dalam memperkuat transformasi digital dan membangun ekosistem layanan kampus yang semakin terintegrasi.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala BPSI sekaligus Ketua Tim Digitalisasi Ubhara Surabaya, Arif Arizal, S.Kom., M.Cs., memaparkan perkembangan dan konsep SITIRA sebagai bagian dari perjalanan transformasi digital Ubhara Surabaya.
Dari Banyak Sistem Menuju Satu Ekosistem
Transformasi digital Ubhara Surabaya bukanlah proses yang dimulai hari ini. Perjalanan tersebut telah berlangsung selama lebih dari dua dekade, dimulai dari pengembangan Sistem Informasi Akademik (SIAKAD), kemudian berkembang menjadi SIM-PT, SIM, hingga kini memasuki era SITIRA.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan digitalisasi perguruan tinggi juga terus berubah. Jika pada tahap awal sistem informasi digunakan untuk mendukung kebutuhan tertentu, perkembangan berikutnya menuntut agar berbagai sistem dan layanan tersebut dapat saling terhubung dan bekerja sebagai satu ekosistem.
Saat ini, ekosistem digital Ubhara Surabaya telah berkembang menjadi 45 instance digital, yang terdiri atas 21 website profile dan 24 aplikasi integrasi serta layanan.
Jumlah tersebut mencakup berbagai layanan digital yang mendukung aktivitas akademik dan nonakademik, mulai dari layanan akademik, kemahasiswaan, keuangan, kepegawaian, perpustakaan, fakultas dan program studi, penerimaan mahasiswa baru, hingga layanan administrasi universitas.
SITIRA: Satu Pintu untuk Ekosistem Digital Ubhara
Melalui SITIRA, berbagai layanan tersebut diarahkan untuk terhubung dalam sebuah ekosistem digital yang lebih terintegrasi.
Salah satu komponen penting yang diperkenalkan adalah SGL (Single Gate Login). Dengan SGL, pengguna dapat mengakses ekosistem layanan digital Ubhara melalui satu pintu akses.
Konsep integrasi tersebut diperkuat dengan API Gateway, yang menjadi bagian dari arsitektur integrasi antar-aplikasi.
Arif Arizal, S.Kom., M.Cs., menjelaskan bahwa SITIRA tidak dibangun sekadar sebagai aplikasi baru, tetapi sebagai fondasi untuk menghubungkan berbagai layanan digital yang telah berkembang di lingkungan Ubhara Surabaya.
“SITIRA kami bangun bukan sekadar sebagai aplikasi baru, tetapi sebagai ekosistem yang menghubungkan berbagai layanan digital di Ubhara Surabaya. Melalui integrasi ini, kami ingin berbagai sistem yang sudah ada dapat bekerja bersama dan memberikan pengalaman layanan digital yang lebih sederhana, cepat, dan terintegrasi bagi seluruh sivitas akademika.”
Dengan demikian, SITIRA tidak diposisikan sebagai sekadar aplikasi baru, tetapi sebagai ekosistem dan fondasi integrasi layanan digital Ubhara Surabaya.
E-Office dan Tanda Tangan Elektronik
Salah satu implementasi integrasi yang ditampilkan dalam SITIRA adalah E-Office.
Melalui E-Office, proses administrasi persuratan dapat dilakukan secara digital, mulai dari pembuatan surat, surat masuk, disposisi, pengelolaan dokumen, hingga penyimpanan arsip digital.
Implementasi tersebut juga telah terintegrasi dengan Tanda Tangan Elektronik (TTE). Dengan demikian, proses administrasi tidak hanya berpindah dari media kertas ke media digital, tetapi juga diarahkan menjadi proses yang lebih terukur, terlacak, terdokumentasi, dan terintegrasi.
Data untuk Informasi, Informasi untuk Keputusan
Integrasi digital juga memberikan manfaat pada aspek pengelolaan data.
Berbagai aktivitas yang sebelumnya berada pada sistem dan layanan yang berbeda dapat diarahkan untuk menghasilkan informasi yang lebih terstruktur. Informasi tersebut selanjutnya dapat mendukung kebutuhan monitoring, evaluasi, dan pengambilan keputusan di lingkungan universitas.
Dengan pendekatan tersebut, transformasi digital tidak berhenti pada pembangunan aplikasi, tetapi bergerak menuju digital governance yang memanfaatkan data sebagai salah satu dasar pengelolaan universitas.
Transformasi Digital Melibatkan Seluruh Sivitas dan Alumni
Bagi Ubhara Surabaya, transformasi digital tidak hanya berkaitan dengan teknologi dan sistem informasi, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut memberikan manfaat bagi seluruh bagian dari ekosistem universitas.
Mahasiswa sebagai pengguna utama berbagai layanan pendidikan dan kemahasiswaan menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem digital. Demikian pula dosen dan tenaga kependidikan yang memanfaatkan sistem dalam menjalankan proses akademik dan administrasi.
Tidak berhenti pada lingkungan internal kampus, ekosistem tersebut juga memiliki keterkaitan dengan alumni sebagai bagian dari keluarga besar Ubhara Surabaya.
Rektor Universitas Bhayangkara Surabaya, Irjenpol (Purn) Drs. Anton Setiadji, S.H., M.H., menekankan pentingnya membangun transformasi digital yang memberikan manfaat bagi seluruh unsur universitas.
“Transformasi digital harus menjadi bagian dari perjalanan bersama seluruh keluarga besar Ubhara Surabaya. Mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, pimpinan, hingga alumni harus dapat merasakan manfaat dari ekosistem digital yang kita bangun. Karena pada akhirnya, teknologi bukan hanya tentang sistem, tetapi tentang bagaimana kita memberikan pelayanan yang lebih baik dan membangun konektivitas yang lebih kuat di lingkungan Ubhara.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengembangan SITIRA diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan efisiensi proses internal, tetapi juga membangun konektivitas dan pengalaman layanan yang lebih baik bagi seluruh komunitas Ubhara Surabaya, termasuk mahasiswa dan alumni.
SITIRA untuk Seluruh Ubhara
Dalam pengembangannya, SITIRA diarahkan menjadi bagian dari ekosistem digital yang melibatkan berbagai unit di lingkungan Universitas Bhayangkara Surabaya.
Mulai dari pimpinan universitas, fakultas, program studi, biro, tenaga kependidikan, dosen, mahasiswa, hingga alumni, seluruhnya menjadi bagian dari ekosistem layanan digital yang terus dikembangkan.
Karena itu, SITIRA bukan hanya milik satu unit atau satu biro. SITIRA merupakan bagian dari transformasi digital universitas secara keseluruhan.
Peluncuran SITIRA menjadi penanda dimulainya fase baru perjalanan digital Ubhara Surabaya: dari sistem yang berkembang secara bertahap menuju ekosistem yang semakin terhubung.
SITIRA — Satu Gate. Satu Ekosistem. Satu Ubhara.
Tags
BKA
UBHARA Surabaya
BKA